lansia

Mengawal Kesehatan Lansia: Bakti Sosial HLUN dan HBDI ke-118 di Panti Sosial Harapan Kita Palembang

Admin
A

Admin

Mengawal Kesehatan Lansia: Bakti Sosial HLUN dan HBDI ke-118 di Panti Sosial Harapan Kita Palembang

Oleh Dr. dr. Nur Riviati, SpPD, K-Ger, FINASIM

 

Palembang, 13 Juni 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026 dan Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-118 , Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Palembang yang diketuai oleh DR. Dr. Yuli Kurniawati, Sp.D.V.E, Subsp,D.K.E., FINSDV, FAADV, bersama PERDOSKI, PERGEMI, BPOM Sumsel, dan IIDI menyelenggarakan kegiatan bakti sosial terpadu. Mengusung tema "IDI Berkemajuan, Bangsa Sehat dan Sejahtera" , kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kualitas hidup populasi geriatri di Panti Sosial Lanjut Usia Harapan Kita, Palembang. 

Kegiatan ini melibatkan sejumlah pakar kesehatan, termasuk Founder Sehatinaja.com, Dr. dr. Nur Riviati, SpPD, K-Ger, FINASIM, yang ditugaskan secara resmi oleh IDI Cabang Palembang bersama tim spesialis penyakit dalam lainnya. Rangkaian acara meliputi pemeriksaan kesehatan umum lansia, pemeriksaan kesehatan kulit, edukasi kesehatan, hingga pembagian sembako. 

Selain itu, dilakukan penyuluhan tentang Kesehatan Kulit pada Lansia oleh dr. Fitriani, Sp. D.V.E. Subsp. D. A.
 

Skrining Kesehatan Lansia di Panti Sosial

Berdasarkan data skrining yang dilakukan terhadap 29 lansia (18 laki-laki dan 11 perempuan) dengan rata-rata usia 69,7 tahun, ditemukan gambaran klinis yang menuntut perhatian khusus terhadap manajemen kesehatan geriatri.

Lebih dari separuh penghuni panti (16 dari 29 orang) teridentifikasi mengalami hipertensi. Dari aspek nutrisi dan mobilitas, evaluasi menunjukkan prevalensi risiko frailty dan sarkopenia. Meskipun rata-rata Indeks Massa Tubuh (IMT) berada pada angka 21,3 (kategori normal), terdapat 10 lansia yang masuk dalam kategori underweight (kurang gizi).

Pemeriksaan antropometri dan kekuatan otot memperkuat indikasi risiko sarkopenia di komunitas ini. Sebanyak 24 lansia memiliki lingkar betis di bawah ambang batas normal, dan 13 lansia tercatat mengalami penurunan kekuatan genggam. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya intervensi nutrisi spesifik, khususnya asupan protein, serta program latihan fisik adaptif untuk mencegah penurunan fungsi motorik yang dapat berujung pada risiko jatuh.

Melalui sinergi multidisiplin ini, diharapkan intervensi medis yang diberikan tidak hanya bersifat kuratif sesaat, tetapi juga memberikan dasar bagi pengelola panti dalam merancang perawatan jangka panjang yang lebih terukur, holistik, dan berpusat pada pasien lansia.