Lansia

Waspada Sindrom Imobilisasi pada Lansia: Tips Perawatan yang Tepat

dr. Bima Indra
d

dr. Bima Indra

Waspada Sindrom Imobilisasi pada Lansia: Tips Perawatan yang Tepat

Halo sobat sehatinaja.com! Ketika orang tua atau kakek-nenek kita sedang sakit, naluri pertama kita biasanya adalah menyuruh mereka istirahat total dan terus berbaring di tempat tidur. Namun, tahukah Anda bahwa terlalu lama berbaring justru bisa memicu masalah kesehatan baru yang berbahaya?

Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai Sindrom Imobilisasi. Berada di tempat tidur terus-menerus tanpa aktivitas fisik bisa memicu berbagai komplikasi, mulai dari penyusutan otot, pengeroposan tulang, sembelit, luka lecet di punggung (ulkus dekubitus), hingga gangguan psikologis seperti linglung, depresi, dan susah tidur.

Agar orang tua kita bisa pulih dengan aman dan optimal, berikut adalah beberapa tips perawatan modern yang perlu Anda ketahui:

 

1. Jangan Biarkan Lansia Terlalu Lama Berbaring (Dorong Bergerak Sedini Mungkin) Konsep istirahat total berbulan-bulan kini sudah mulai ditinggalkan. Daripada berdiam diri, lansia sangat disarankan untuk segera bergerak sesegera mungkin setelah kondisi akutnya tertangani (tentunya dengan izin dokter). Jika dibiarkan diam, otot lansia akan sangat cepat kehilangan kekuatan dan massanya. Latih mereka untuk duduk di tepi ranjang, berdiri, atau berjalan ringan perlahan-lahan.

 

2. Atur Jadwal Makan Protein yang Cerdas Memberikan makanan bergizi saja tidak cukup; cara kita memberikannya juga penting. Penelitian gizi terbaru menyarankan agar porsi protein (seperti ikan, telur, tahu, atau tempe) dibagi rata di setiap jam makan—baik itu sarapan, makan siang, maupun makan malam. Cara ini jauh lebih efektif untuk merangsang pembentukan otot. Selain itu, memberikan camilan kaya protein sebelum tidur juga sangat dianjurkan untuk mencegah hilangnya massa otot selama lansia tidur di malam hari.

 

3. Buat Latihan Fisik Lebih Menyenangkan dengan Teknologi Salah satu tantangan merawat lansia adalah mereka sering kali bosan, nyeri, atau malas melakukan latihan fisik yang gerakannya diulang-ulang. Sebagai solusinya, pemanfaatan teknologi seperti permainan (game) interaktif atau Virtual Reality (VR) kini mulai direkomendasikan. Rangsangan visual dan suara dari teknologi ini membuat latihan terasa seperti hiburan, sehingga lansia lebih termotivasi untuk bergerak. Asyiknya lagi, teknologi semacam ini bisa digunakan di rumah dan dipantau dari jarak jauh oleh terapis.

 

4. Waspada dengan Penggunaan Obat Pengencer Darah di Rumah Salah satu ancaman fatal saat lansia tidak bisa bergerak adalah terbentuknya gumpalan darah di kaki atau paru-paru. Selama di rumah sakit, dokter biasanya memberikan suntikan obat pengencer darah (antikoagulan) untuk mencegah kondisi ini.

 

Namun sebagai masyarakat awam, Anda harus tahu bahwa membawa pulang obat pengencer darah minum (pil) untuk pencegahan gumpalan darah lanjutan di rumah umumnya tidak lagi disarankan. Panduan medis terbaru menemukan bahwa bagi lansia, risiko mengalami perdarahan yang membahayakan nyawa saat meminum obat ini di rumah jauh lebih besar daripada manfaat pencegahannya. Pencegahan dengan obat ini biasanya hanya diberikan pada kondisi yang sangat khusus, misalnya jika lansia tersebut juga merupakan pejuang kanker.

 

Kesimpulan Mari kita ubah cara pandang kita dalam merawat lansia yang sedang sakit. Istirahat memang perlu, tetapi bergerak aktif adalah kunci utama mempertahankan kemandirian mereka. Selalu diskusikan dengan dokter dan fisioterapis mengenai batasan gerak dan nutrisi yang paling aman bagi orang tua Anda.

Salam sehat dari sehatinaja.com!

lansia geriatri